Politik, Ekonomi, Sosial dan Budaya


POLITIK & PEMERINTAHAN

Terbentuknya desa Sumber Anyar pada 2007 tidak terlepas dari peran penting Bapak Sayidi. Beliau sebelumnya memiliki andil dalam proses pemekaran desa dan menjadi “Pejabat Sementara” hingga tahun 2009. Setelah itu Sumber Anyar menyelenggarakan Pilkades (Pemilihan Kepala Desa) untuk kali pertama, dimana terdapat 2 kandidat yang diisi oleh Bapak Sayidi dan istrinya. Kemudian yang keluar sebagai pemenang adalah Bapak Sayidi sendiri. Beliau mengemban tugas menjadi Kepala Desa hingga 2 periode, yakni periode 2009-2014 dan 2014-2019.

Adapun kesenjangan-kesenjangan yang ada sebelumnya perlahan kini mulai dibenahi oleh Pak Sayidi. Seperti perbaikan infrastruktur jalan, listrik dan yang paling signifikan adalah air bersih. Di bawah pemerintahan Pak Sayidi, akses air bersih yang mudah adalah pencapaian yang luar biasa. Mengingat desa Sumber Anyar merupakan daerah dataran tinggi yang cukup sulit terjamah oleh air bersih, karena untuk membuat sumur air saja perlu menggali tanah sedalam 25 meter. Berbeda dengan desa Sumber Jeruk yang berada di dataran rendah.

EKONOMI

Sumber Anyar terletak pada dataran tinggi yang memiliki jenis tanah inceptisol, dimana sangat cocok untuk tanaman jenis keras atau tanaman tahunan. Contoh dari tanaman tahunan adalah pepaya, jagung, singkong, tebu, durian dan lain-lain. Maka tidak heran bila mayoritas petani desa Sumber Anyar bertumpu pada pertanian tanaman tahunan. Selain pertanian, desa Sumber Anyar juga mengembangkan perekonomiannya melalui usaha persewaan properti dekorasi dan publikasi (tenda, kamera foto, dan lainnya).

 

SOSIAL-BUDAYA

Masyarakat desa Sumber Anyar secara garis besar dihiasi oleh kehidupan sosial dan budaya Madura yang cukup kental. Terlebih mayoritas dari mereka adalah penganut Islam, yang dibuktikan dengan adanya 2 Masjid, 23 Musholah dan 3 sekolah keagamaan. Para remaja yang telah lulus SD (Sekolah Dasar) umumnya memilih pendidikan di pesantren ketimbang pendidikan di sekolah. Di sisi lain, dengan nilai-nilai budaya dan agama yang begitu kental mengakibatkan banyak terjadinya pernikahan usia dini. Fenomena ini didasari atas anggapan “jika tidak segera menikah, maka tidak laku”, atau “jika seorang gadis tidak menikah di usia muda, maka berarti ia akan menjadi perawan tua”. Sementara kesenian tradisional yang hingga saat ini masih dilestarikan adalah Pencak Silat Bawean.